Kota Palangka Raya- Inflasi di Kota Palangka Raya tercatat masih stabil pada level 0,19% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2024. Namun, di balik angka inflasi yang terkendali, terdapat lonjakan harga yang signifikan pada beberapa komoditas pangan, terutama cabai merah dan cabai rawit. Kenaikan harga ini menjadi perhatian serius pemerintah setempat, meskipun secara keseluruhan inflasi masih dalam batas aman.
Inflasi Stabil, Namun Daya Beli Perlu Diwaspadai
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Umi Mastikah, menyatakan bahwa inflasi yang terlalu rendah atau bahkan negatif justru dapat menjadi indikator melemahnya aktivitas ekonomi.
“Inflasi kita masih stabil di angka 0,19 persen. Kita berharap jangan sampai minus karena itu berarti aktivitas produksi dan jual beli melemah,” ujarnya usai menghadiri rapat koordinasi (rakor) inflasi secara daring di Ruang Rapat Peteng Karuhei I, Kantor Wali Kota Palangka Raya, Senin (7/7).
Meskipun inflasi masih dalam kategori rendah dan terkendali, pemerintah tetap mewaspadai potensi penurunan daya beli masyarakat jika harga beberapa bahan pokok terus melambung tinggi.
Lonjakan Harga Cabai Capai 40%, Penyebabnya Gangguan Distribusi dan Produksi
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palangka Raya, kenaikan harga tertinggi terjadi pada cabai rawit merah, yang melonjak hingga 40% atau sekitar Rp70.000 per kilogram. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada:

Baca Juga: Angka Pengangguran Turun, Tapi Kemiskinan Naik di Palangka Raya
-
Cabai rawit hijau (+35%)
-
Cabai keriting (+25%)
-
Beras (+5%)
-
Minyak goreng (+3%)
-
Tomat (+15%)
-
Daging ayam (+8%)
Wakil Wali Kota Zaini menduga bahwa gangguan distribusi dan produksi menjadi penyebab utama lonjakan harga ini.
“Kami sudah turun ke lapangan, dan kita juga berkoordinasi dengan kabupaten lain bahwa ini juga terjadi di wilayah lain. Kemungkinan besar karena distribusinya terhambat dan panennya belum merata,” jelasnya.
Pemantauan Intensif dan Langkah Antisipasi Pemerintah
Pemerintah Kota Palangka Raya bersama Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar tradisional dan modern. Pemantauan ini akan berlangsung hingga minggu depan untuk menentukan apakah diperlukan intervensi lebih lanjut, seperti operasi pasar atau subsidi harga.
Beberapa langkah yang sedang dipertimbangkan antara lain:
-
Koordinasi dengan petani dan distributor untuk memperlancar pasokan.
-
Operasi pasar khusus cabai jika harga tidak segera turun.
-
Peningkatan pengawasan terhadap spekulan yang diduga memanipulasi harga.
-
Pembukaan jalur distribusi alternatif untuk mengatasi kemacetan logistik.
Dampak pada Masyarakat dan Solusi Sementara
Lonjakan harga cabai dan beberapa bahan pokok lainnya tentu memengaruhi pengeluaran rumah tangga, terutama bagi masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Beberapa pedagang di Pasar Besar Palangka Raya mengaku kesulitan menjual cabai karena permintaan turun drastis akibat harga yang terlalu tinggi.
*”Kalau harga cabai rawit merah Rp70.000/kg, banyak pembeli yang memilih tidak beli atau beralih ke cabai kering atau bubuk cabai,”* ujar Siti, seorang pedagang sayur di Pasar Besar.
Sebagai solusi sementara, masyarakat dapat:
-
Membeli dalam jumlah kecil untuk menghindari pemborosan.
-
Mencari alternatif pengganti cabai, seperti saus sambal atau cabai kering.
-
Memantau harga di pasar tradisional yang biasanya lebih murah dibandingkan minimarket.
Pemerintah berharap gangguan distribusi dan produksi dapat segera teratasi sehingga harga cabai dan komoditas lainnya kembali stabil. Selain itu, upaya jangka panjang seperti penguatan logistik pangan dan dukungan untuk petani lokal perlu terus digalakkan agar ketahanan pangan di Palangka Raya semakin kuat.
“Kami akan terus memantau perkembangan harga dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Tujuannya agar inflasi tetap stabil dan daya beli masyarakat tidak terganggu,” tegas Wakil Wali Kota.
Dengan langkah-langkah antisipasi yang telah dan akan dilakukan, diharapkan lonjakan harga cabai dan bahan pokok lainnya dapat segera dikendalikan, sehingga perekonomian Kota Palangka Raya tetap bergerak positif tanpa membebani masyarakat.
















